Film eksperimental I Am Become Death merupakan film eksperimental yang diupload ke Youtube pada 20 maret 2020 lalu. Film I Am Become Death membawa tema kejadian nuklir pasca tahun 1950 an yang dimana banyak sekali peristiwa pengeboman seperti bom Hiroshima – Nagasaki, dan Pearl Harbor yang menewaskan kira – kira 150.000 hingga 246.00 (Wikipedia) orang dalam dua kali ledakan. Dalam Film I Am Become Death, Tom Potter selaku director dari film tersebut ingin menegaskan bahwa orang – orang dibalik penyerangan nuklir tersebut merupakan orang yang korup dan acuh terhadap kemanusiaan serta Oppenheimer yang dipaksa untuk dapat menyaksikan kejadian tersebut dengan mata lebar.
Associative Form
Associative Form pertama yang dibahas adalah penggunaan shot mata yang dipaksa terbuka dengan kayu atau tusuk gigi. Hal ini menandakan bahwa sang aktor dipaksa untuk melihat atau menyaksikan sesuatu yang dimana dalam konteks film ini hal tersebut adalah peledakan nuklir di kota – kota besar. Associative Form kedua adalah penuangan susu ke dalam kopi yang bersamaan dengan sebuah ledakan overlap diatas shot kopi tersebut. Ini melambangkan bahwa pemegang kekuasaan dari bom atom tersebut dapat menjalani hari dengan tenang walaupun tempat yang mereka ledakan kini habis terbakar. Associative Form ketiga adalah muka aktor (dapat diasumsikan oppenheimer) yang perlahan berubah menjadi jahat atau menyeramkan dengan teknik overlap dari shot ke shot lainnya. Hal ini melambangkan seberapa korup serta acuhnya petinggi dari pemegang kekuasaan pada tahun 1950 an tersebut. Gambar jam melambangkan detik – detik dilakukannya peledakan, tumbuhan yang layu, hantu, serta darah merupakan penggambaran dari hasil meledaknya bom atom atau nuklir tersebut. Film I Am Become Death menggunakan pewarnaan hitam putih serta efek film grain atau noda seperti roll film tahun 1950 an yang memiliki banyak film grain, serta artifact dan tidak memiliki warna. Penggunaan warna dan efek seperti film roll jadul merupakan hal yang diperlukan untuk mengungkapkan atau menegaskan latar waktu dari tema yang dibawakan. Suara yang dipergunakan dalam film ini meliputi beberapa hal seperti musik, suara narator, serta suara efek. Musik yang dipergunakan dalam film ini adalah lagu Sh Boom karya The Chords yang dirilis pada tahun 1954. Lagu Sh Boom ini dimodifikasi dengan cara diperlambat dan menggunakan reverb yang kuat sehingga menciptakan atmosfer jadul dan nostalgia bagi siapapun yang menontonya. Suara monolog yang digunakan sepanjang film I Am Become Death adalah suara Robert J. Oppenheimer itu sendiri yang direkam pada tahun 1965 setelah Oppenheimer melihat ciptaan nya membakar hangus ratusan ribu jiwa. Oppenheimer mengatakan “I Am Become Death, the Destroyer of Worlds” yang merupakan kutipan dari kitab Hindu Bhagavad Gita.
Aspek audio yang dimainkan dalam film I Am Become Death biasanya terdiri dari noise radio atau suara berisik radio yang terkesan rusak. Rekaman audio dari perhitungan mundur peluncuran nuklir pun dapat terdengar serta, suara detikan jam, tangisan bayi, aliran air, detakan jantung, juga suara rekaman anak kecil tentang mimpinya memperdalam cerita dan pesan yang ingin disampaikan oleh Tom Potter.
Abstract Form
Abstract Form yang dibawakan dalam film I Am Become Death dapat langsung dilihat dari awal film dimana dituangkannya pasir hitam kedalam air yang bergerak atau di transportasikan ke tempat lain. Menurut saya ini juga dapat mewakilkan jiwa – jiwa yang berjatuhan ketika bom atom diledakan. Jenis shot yang digunakan didalam film ini umumnya tetap menggunakan teori rule of third yang dimana aktor sering ditempatkan di tengah atau di samping dari frame. Banyak penggunaan overlap pada beberapa shot seperti adegan penuangan kopi dan muka aktor, muka aktor yang perlahan menjadi jahat, dan sebagainya. Film I Am Become Death menggunakan beberapa shot associative form dan abstract form yang dapat dikaitkan dengan konteks naratif atau cerita yang dibawakan di dalam film.
Kesimpulan
Film Eksperimental I Am Become Death merupakan film eksperimental yang sangat unik karena bukan hanya memadukan tema personal yang biasanya dibawakan dalam film eksperimental tapi membawakan sebuah tema sejarah didalamnya. Penggunaan suara monolog asli dari Robert J. Oppenheimer pada tahun 1965 juga merupakan keputusan kreatif yang sangat menarik dikarenakan hal tersebut merupakan kata – kata langsung dari subjek yang diangkat kedalam film. Penggunaan efek serta musik yang dapat menegaskan atau melambangkan tahun 1950 hingga 1960 an juga sangat on point sehingga membuat kesan atau feel film terasa jadulnya.


