Berbicara mengenai film Indonesia, Kucumbu Tubuh Indahku menjadi topik yang menarik. Namun, sekelompok orang melakukan banning atau melarang film ini beredar. Alasannya adalah film ini mengeksplorasi vulgar signifikan ‘tubuh’ dengan meletakkan sebuah karakter yang unik. Meskipun film ini memiliki penghargaan yang banyak, namun juga pelarangan film ini menunjukkan perubahan dan resistensi secara simultan dalam sinema Indonesia khususnya terkait dengan keberagaman dan representasi. Ku Cumbu Tubuh Indahku menjelma dalam cinema itu menjadi ruang pertemuan, ruang berdebat, yang lebih sengit karena memiliki keterkaitan dengan ideologi-ideologi yang representatif. Kemudian, progress terkait dengan inklusif seperti disability lebih kelihatan karena dianggap less harmfull oleh Masyarakat. Sehingga, film yang menunjukkan diversitas gender dan seksualitas dengan disabilitas porsinya berbeda. Sebagaimana contohnya adalah Film The Gift yang mengangkat perspektif penyandang disabilitas, penyanyi disabilitas yang tidak direpresentasikan sebagai subjek yang perlu dikasihani atau subjek yang perlu dijauhi atau subjek yang perlu mendapatkan treatment dari medis, namun juga tidak memiliki karakter super strip bahwa dia memiliki kekuatan super power. Tegar misalnya, yang baru-baru saja menyita perhatian publik bahwa penyandang disabilitas tidak diperankan secara khususnya semua aktor yang memerankan disabilitas dengan karakter asli. Sehingga pelibatan mereka ini memberikan nuansa yang menarik dalam menginterpretasi narasinya kemudian dia tidak memprogram jadi apa disability of normal in every day life. Bahwa mereka juga mengekspresikan cintanya dengan cara-cara yang menarik dari film ini adalah ada sunyi di tengah-tengah film untuk memberi kesempatan pada kita yang menonton dan memahami dunia orang yang tuli. Sehingga film membuat kita memahami bahasa isyarat.
Category: Artikel


