dok. Simposium (R)evolusi Sinema: Eksistensi Film Experimental dalam Era Sinema Modern, UPI
Simposium mengenai ‘kebangkitan’ film experimental telah dilaksanakan pada 20 Desember 2023 di Bandung. Symposium ini membahas mengenai potensi film experimental di masa depan dan realitasnya saat ini yang mulai bermunculan di institusi pendidikan. Isi symposium secara garis besar menggarisbawahi mengenai film yang sebenarnya bisa dilihat dari sisi yang lebih beragam. Ketika kritikus film melihat bahwa film seyogianya tidak hanya dilihat dari sisi komersil saja, adalah sesuatu yang tepat. Jika dilihat dari sisi historis, David Broadwell dengan tegas menjelaskan bahwa film memiliki beragam style. Salah satunya adalah film experimental. Secara teori, film experimental sangat bertolak belakang dengan film komersil dimana film komersil ‘dianggap’ memiliki motivasi ‘terselubung’ atau ‘propaganda’. Sementara film experimental mendobrak ‘konstruksi’ itu. Sebuah film experimental bisa menjadi medium yang benar-benar abstrak, formal, jujur, factual, yang di dalam konsepnya, sutradara merancang realitas. Perancangan realitas ini bisa secara naturalistik atau mensimbolisasikan dalam abstract dan associational form. Kedua form inilah yang menurut David Broadwell sebagai unsur pembentuk film experimental yang isunya cenderung kritis dan tanpa batas. Dalam symposium ini disampaikan bahwa film experimental memiliki potensi yang besar di Indonesia, karena memiliki karakter medium kreatif dan seni yang terintegrasi. Sekuens pembuka film experimental biasanya mengilustrasikan eksploitasi ruang pandang yang bergerak, dipadukan dengan penggunaan kamera yang tidak terputus untuk menyembunyikan (menghilangkan) metode-metode yang digunakan dalam penciptaan ilusi dalam rangka menciptakan realitas isu kritis yang diangkat.
Perkembangan film experimental di Indonesia sendiri awal mulanya diprakarsai oleh Gotot Prakosa, dimana posisi film experimental memang bertolak belakang dengan industri dan sisi komersial. Industri OTT, Bioskop, dsb ini juga menjadi harapan besar bagimana memposisikannya (film experimental). Symposium ini akhirnya mengungkapkan bahwa film experimental adalah menyoal kembali medium, sinema dalam pendidikan, sejarah, dan ruang tafsiran yang lebih luas sehingga tidak bisa dibatasi oleh satu standard saja. Dunia pendidikan dan ekosistem menjadi bagian dari proses kreatif yang idealnya harus memiliki sistem pendidikan dan ragam fasilitas. Seperti contohnya adalah fasilitas pendidikan, penyediaan lapangan kerja, dan peluang pemetaan ekosistem perfilman Indonesia yang lebih terintegrasi atas munculnya ruang gagasan baru yang saat ini mulai bermunculan.


